News

Iran Masih Kaji Proposal Damai AS, Belum Beri Jawaban Resmi

Istanbul (KABARIN) - Iran dikabarkan masih menelaah teks final dari kemungkinan kesepakatan dengan Amerika Serikat dan hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi terkait proposal tersebut.

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, yang mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut, Teheran masih mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan.

Sumber itu menyebut Iran ingin memastikan bahwa kesepakatan yang tercapai nantinya benar-benar memberikan manfaat yang "nyata dan konkret" bagi negara tersebut.

Selain itu, pengalaman masa lalu juga menjadi pertimbangan penting bagi Teheran. Menurut sumber tersebut, “sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama” membuat Iran memandang proses negosiasi ini dengan “sangat hati-hati.”

Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri masih berada dalam kondisi yang sensitif. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari.

Sebagai balasan, Iran melakukan serangan yang menyasar Israel dan sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga sempat menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Upaya meredakan konflik sempat menghasilkan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan damai yang bersifat permanen.

Meski begitu, jalur diplomasi masih terus dibuka dan berbagai upaya penyelesaian konflik tetap dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

Dalam proses negosiasi tersebut, Iran disebut mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik secara permanen. Salah satu tuntutan utamanya adalah penghentian pertempuran di seluruh medan konflik yang berkaitan dengan perang tersebut.

Persyaratan itu juga mencakup situasi di Lebanon, di mana serangan terbaru Israel masih terus berlangsung sejak awal Maret.

Di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menyatakan bahwa dirinya telah meminta Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu untuk menarik pasukan Israel dari Beirut.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai salah satu sinyal bahwa Washington masih berupaya mendorong terciptanya stabilitas dan mengurangi eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Penerjemah: Primayanti
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: